It's so fun! Gue baru tau kalo hubungan orang pacaran itu ga beda jauh dengan layaknya hubungan seorang secret admirer terhadap seoarang idol (lebih kurang). Mencari tau tentang pacar kita secara diam-diam lewat account jejaring sosialnya, googling, download foto terbarunya, tanya-tanya temennya, bahkan sengaja lewat depan rumahnya diem-diem cuma sekedar liat dia ada atau ga.
Begitukah? Kenapa ga pake cara yang lebih praktis aja sih? Yang rada elegan dan normal gitu, mungkin dengan tanya langsung ke dia sewaktu ngobrol-ngobrol kek. Tidakkah itu aneh jika kita ngerasa status kita adalah pacar tapi kita sendiri merasa sungkan untuk melakukannya. Kalo hanya sebagai media spy, ya sesekali mungkin ga masalah lah. But, this is always? I don’t think so…kecuali kalo lo Intel yang bertugas ngawasin gue 24 jam.
Yah, kenyataan ini baru gue tau akhir-akhir ini kalo ternyata mantan gue kayak gitu selama kita pacaran dulu.
“Tunggu, kenapa baru dibahas sekarang?”
Gue sengaja angkat topik ini karena gue mau sedikit berbagi pengalaman gue dulu. Gue sempat punya hubungan yang terlihat harmonis di luar, namun kacau secara kenyataan. “Kok bisa?” Itu karena ada banyak hal yang seharusnya diungkapkan tapi malah dikubur dalam-dalam. Hubungan itu bermula sewaktu gue SMA dan berakhir dua tahun lalu. Namun entah kenapa dia sms gue baru baru-baru ini dan bilang beberapa hal.
Dia (mantan gue) bilang kalo dia tau semua siapa aja mantan-mantan gue (halaaah, emang sebanyak apa sih?hehe...).
Terus kenapa emang kalo tau? Mau ngedata nomor KTP mereka di kelurahan? Kalo cuma tau nama doang mah buat apa atuh. Masalahnya bukankah lebih baik jika saat itu yang dia cari tau dan pahami adalah bagaimana bentuk hubungan gue dengan masing-masing dari mereka sebelumnya ga sih? Bagaimana gue menjalaninya dulu, waktu masih sama mereka. Ya sekedar buat bahan pembelajaran aja kalo emang pengen mengenal gue lebih jauh. Actually if this is important for her, karena sejujurnya gue sendiri ga begitu tertarik untuk mencari tau hubungan pacar gue dengan mantan-mantannya sebelumnya. Akan jauh lebih baik kalo gue jadi diri gue sendiri, bukan orang lain. This is me, kalo ga suka ya balik aja ama mantan sampean sebelumnya.
Terus kenapa emang kalo tau? Mau ngedata nomor KTP mereka di kelurahan? Kalo cuma tau nama doang mah buat apa atuh. Masalahnya bukankah lebih baik jika saat itu yang dia cari tau dan pahami adalah bagaimana bentuk hubungan gue dengan masing-masing dari mereka sebelumnya ga sih? Bagaimana gue menjalaninya dulu, waktu masih sama mereka. Ya sekedar buat bahan pembelajaran aja kalo emang pengen mengenal gue lebih jauh. Actually if this is important for her, karena sejujurnya gue sendiri ga begitu tertarik untuk mencari tau hubungan pacar gue dengan mantan-mantannya sebelumnya. Akan jauh lebih baik kalo gue jadi diri gue sendiri, bukan orang lain. This is me, kalo ga suka ya balik aja ama mantan sampean sebelumnya.
Dia bilang kalo gue lebih sering share dan ngobrol ke temen-temen deket gue, tapi ga ke dia.
Ya wajar lah, mungkin karena mereka sebagai temen jauh lebih care. Tentunya gue juga ga bakal mau share masalah gue ke orang yang ga minta, bertanya atau benar-benar peduli dan mau mendengarkan.
Ya wajar lah, mungkin karena mereka sebagai temen jauh lebih care. Tentunya gue juga ga bakal mau share masalah gue ke orang yang ga minta, bertanya atau benar-benar peduli dan mau mendengarkan.
Dia bilang kalo dulu dia sering sengaja lewat depan rumah gue.
Mengapa ga berhenti sih, turun, temuin gue. Mungkin bisa sekalian temuin ayah, ibu, sodara, atau keluarga-keluarga gue yang lain. Normalnya cara ini mungkin lebih bisa diterima daripada harus repot lewat diem-diem cuma sekedar liat-liat. Namun, jangankan meminta gue buat dipertemukan dengan ortu gue, sama sahabat-sahabat gue aja dia ga mau.
Mengapa ga berhenti sih, turun, temuin gue. Mungkin bisa sekalian temuin ayah, ibu, sodara, atau keluarga-keluarga gue yang lain. Normalnya cara ini mungkin lebih bisa diterima daripada harus repot lewat diem-diem cuma sekedar liat-liat. Namun, jangankan meminta gue buat dipertemukan dengan ortu gue, sama sahabat-sahabat gue aja dia ga mau.
Tidakkah dia liat kalo dulu gue sering banget ngobrol sama ayah, ibu, atau sodara-sodaranya. Gue juga sebisa mungkin nyempatin nemenin dia maen ke rumah sahabat-sahabatnya. Tujuannya ya biar gue bisa sedikit mengenal dia dan bisa masuk dalam kehidupan dia. Gue bukanlah seorang yang berusaha mengetahui isi sebuah buku, namun hanya melihat-lihat cover dan tidak mau mau mencoba membacanya.
Dia juga bilang kalo dia sering banget “dicampakan”. Untuk yang satu ini gue rada ga habis pikir. Habis kalo dia bilang “sering” artinya ini bukan pertama kalinya terjadi kan? Kenapa ga coba cari tau sih kenapa itu bisa terjadi, sampe berkali-kali lagi. Sebagai seseorang yang pernah jadi bagian hidupnya, gue tau betul kenapa cowok-cowok pada ninggalin dia. Itu karena kehidupannya begitu suram dan menyedihkan. Bukan suram dalam arti sebenarnya loh, melainkan karena dia terlalu mendramatisir hidup. Begitu meratapi hidupnya yang sebenarnya masih jauh lebih baik dari kebanyakan orang dengan segudang masalah dan cobaan.
Hidupnya bahkan tanpa visi dan cita-cita yang jelas. Hal ini tentunya akan menurunkan kualitas persepsi orang-orang akan dirinya sehingga mereka merasa muak dan letih untuk terus menjadi motor yang terus mendorong agar dia terus maju menjalani hidup, namun dirinya sendiri tak berusaha menjadi motor bagi hidupnya.
Hidupnya begitu pasif, seolah-olah dirinya adalah center of the world. Seakan-akan dunia memahami dirinya sepenuhnya. Mengharapkan orang-orang care, namun dirinya sendiri ga perduli. Sumpah, gue ga bakal heran kalo satu per satu cowo bakal mundur sendirinya dan mencari yang jauh lebih baik, lebih dewasa, serta lebih cerdas menyikapi hidup.
Yah, this is so fun! Pada dasarnya tulisan ini merupakan bentuk kekecewaan gue akan sebuah hubungan yang sebenernya ga saling membuka diri satu sama lain. Suatu perasaan cinta yang dalam namun tak diungkapkan. Sesuatu yang ngeganjel di hati namun tak diutarakan. Hingga akhirnya kita ngerasa ga pernah menemukan kecocokan. I have to try said it before, when we were together. But she never tried to listen to me. Good bye…...........\(^_^)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar