Sabtu, 19 Mei 2012

Tom and Jenny


“Kok Jenny sih? Bukannya Tom and Jerry?”.
(catatan : Gua emang ga kreatif)  

Kali ini gua mau cerita tentang kisah dua ekor hewan. Tepatnya kisah cinta dua ekor hewan dari spesies yang berbeda. Antara Tom dan Jenny. Tom adalah seekor kucing dan Jenny seekor tikus. Sekali lagi gua tekankan, ini merupakan cerita cinta-cintaan, sama sekali ga ada adegan kekerasan seekor kucing memangsa tikus di dalamnya.

Kritis, logis, narsis, dan sifilis adalah beberapa sifat yang mungkin merepresentasikan karakter Tom. (untuk sifat yang terakhir penulis cuma becanda). Tom hidup bahagia dan normal sebagaimana seekor kucing remaja pada umumnya. Tidur, bangun, mandi, sarapan, kuliah, ngerjain tugas, dan sesekali nongkrong bareng temen. Namun, kini ada yang berbeda dengan Tom. Ia jadi sulit fokus dan moodnya berfluktuatif naik-turun layaknya harga saham di pasar sekunder. Suatu waktu Tom terlihat normal, penuh dengan semangat dan energi positif yang biasa ia tularkan pada lingkungan sekitarnya. Namun, di satu sisi kita juga akan melihat ia begitu murung dan tanpa arah. Yah, secara kedokteran, Tom bisa dikategorikan terserang penyakit Galauitis stadium tiga.

Sebenarnya masalah dasar yang dihadapi Tom adalah masalah cinta. Ia terlanjur menyukai seorang gadis. Jenny seekor tikus cantik manis yang telah memberikan warna tersendiri dalam hidupnya. Tom dibuat cinta mati pada Jenny tanpa tau sebab ataupun alasannya. Perlu anda tau, belum ada sejarahnya Tom si kucing dibuat tergila-gila dan mau melakukan apa saja demi seorang gadis. Dengan kualitas, potensi serta energi yang dimilikinya, tidak sulit baginya untuk membuat kucing-kucing wanita lumpuh tak berdaya terpikat akan pesona Tom.

Namun tidak bagi Jenny. Sepertinya Jenny sama sekali tidak tertarik pada Tom. Untuk situasi yang lebih ekstrem, kata “jijay” mungkin akan lebih tepat penggunaannya saking tak berartinya Tom di mata Jenny. Ya iyalah, jelas-jelas Jenny seekor tikus dan Tom kucing. Bagaimanapun Tom memaksa, jelas-jelas kucing bukanlah tipe cowok seekor tikus. (Untuk hal ini dapat anda temukan alasannya pada buku Biologi bab Rantai Makanan).

Sekeras apapun usaha Tom untuk menarik perhatian Jenny, hal itu tetap saja benilai nol besar. Mulai dari metode klasik dengan mencari tau serta mempelajari hal-hal kesukaannya, akrab dengan teman-teman dekatnya, sampai cara ekstrem dengan nyamperin langsung rumahnya. Semua udah Tom coba. Itu semua Tom lakukan agar Jenny merasa nyaman dengan dirinya. Tentu semua itu takkan berarti apa-apa tanpa pengaruh yang signifikan bagi hubungan mereka. Semakin keras Tom berusaha, semakin keras pula Jenny menghindar.

Meski Jenny tak pernah melakukannya secara terus terang, bukanlah hal sulit bagi Tom untuk menerjemahkan setiap sikap dan tingkah laku Jenny. Jelas-jelas Jenny ngrasa gak nyaman atas sikap Tom kepadanya.

“Tom, lo tuh mesti Pede! Yang perlu lo lakuin adalah cukup bikin dia nyaman sama lo.”

Berapa kali kalimat itu muncul dari temen-temen Tom selalu ngedukungnya. Yah, mungkin itu satu-satunya yang membuat Tom terus bertahan. Tom tau kalo temen-temennya tau yang terbaik baginya. Dan Tom sangat tidak ingin mengecawakan mereka dengan begitu gampang untuk menyerah. Namun di sisi lain Tom juga menyadari bahwa hal ini bener-bener hal yang sia-sia.

Yah, mungkin selamanya Tom adalah Tom, dan Jenny adalah Jenny. Seekor kucing dan seekor tikus. Setidaknya Tom bersyukur, karena Jenny telah memberikan pelajaran yang paling berharga. Bahwasanya PDKT hanyalah cara untuk tau apakah Jenny adalah seseorang yang Tom butuhkan, atau mungkin hanyalah seseorang yang Tom inginkan.

Tom emang telah jatuh ke dalam sumur patah hati, namun bukan berarti Tom cukup berdiam diri dan menerima kenyataan.

“Lekas bangkit Tom, panjat dan keluarlah dari sumur itu!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar