Minggu, 11 September 2011

Guru

Guru, sebuah profesi fundamental dari perkembangan sebuah peradaban. Profesi yang terkait dengan hal yang bersifat hakiki, yaitu ilmu. Profesi yang tidak hanya menjanjikan kebahagiaan dunia, tapi juga akhirat. Yah, gue sangat bangga akan profesi tersebut.
Sebenarnya gue ga pernah menyangka kalo suatu saat gue bakal ngerasain betapa gimana rasanya jadi seorang guru. 
Cerita ini berawal ketika gue dilanda suntuk berkepanjangan (red: bete’ ga ada kerjaan). Eh, tiba-tiba gue dapet tawaran dari salah satu kakak angkatan yang nawarin gue kerja part-time jadi guru private. Sebenarnya sih tawarannya ditujukan buat dia, namun karena dia udah hijrah ke kota lain, akhirnya tawaran tersebut direkomendasikan ke gue. 
“Hmmmm……boleh juga nih”, pikir gue. Tanpa basa-basi gue ambil tawaran tersebut.
Besoknya gue diundang untuk datang ke alamat lembaga bimbel private tersebut. Bener-bener sebuah langkah nekat, karena gue belum punya pengalaman ngajar sebelumnya bahkan materinya pun gue belum tau saat itu.
Eh, ajaibnya gue diterima setelah beberapa saat wawancara singkat. Mungkin karena lembaga tersebut ga punya banyak pilihan lain dimana ada begitu banyak order private, tapi tenaga pengajar terbatas. Belum lagi waktu yang udah begitu mendesak karena besok malamnya gue udah harus mulai mengajar. 


Setelah sign kontrak, gue pun dikasih modul, data diri siswa, dan alamat rumahnya. Dan setelah gue searching alamatnya, tadaaaaa……, lumayan jauh cuy dari kos gue.
“Oke, oke, selalu ada berkah dibalik cobaan”, gue coba tetap positive thinking. 

Emang sih kalo bicara masalah fee, nominal yang gue peroleh ga seberapa belom lagi gue ga dapet uang bensin meskipun tempatnya jauh. Namun sisi baiknya otak gue ga jadi karatan karena kelamaan nganggur. 
Hari pertama ngajar pun tiba. Gue udah beli dan baca buku ekonomi akuntansi SMA kelas XI, download materi dan soal-soal, bahkan karakter siswanya pun gue udah ada gambaran (liat di Facebook dan di forum-forum game online). 
“Bismillahirohmannirohhim”, gue pun berangkat hari itu.
Sebelumnya gue kira persiapan yang cukup matang tadi udah pas dan sempurna. Eh, ternyata masih aja ada kurangnya. Alamat siswa yang gue pikir gampang, ternyata susah cuy nyarinya. Gue sempat nyasar dulu kesana-kemari. 

Pas nanya ke penduduk sekitar, mereka juga pada ga tau. Sekalipun kasih jawaban mereka juga kurang yakin bilangnya. Kayak orang bego’ akhirnya gue pun telat 30 menit dan orang tua siswa tersebut telpon gue dan berinisiatif nyuruh anaknya (si siswa) buat jemput gue di depan jalan masuk kompleks. Hadoooohh….gue malu bangeeet.
Setelah sukses kasih kesan pertama yang rada geblek, gue pun mulai menjalankan kewajiban gue. Sesuai skenario, sesi pertemuan pertama ini gue mulai dengan perkenalan. Kemudian gue mulai membahas garis besar materi yang akan dipelajari, menjelaskan metode pembelajaran, serta menanyakan bagian yang menurut siswa sulit dipahami di sekolah beserta alasannya. Dan terakhir gue coba kasih mini tes untuk mengetahui sejauh apa kemampuan siswa tersebut sebagai tolak ukur teknis pengajaran nantinya.  Mantaaab...

Selang beberapa hari kemudian, gue dapet lagi tawaran mengajar. Kali ini tawaran dari seorang temen yang juga berprofesi part-timer sebagai guru private. Dia kasih tawaran ini ke gue buat gantiin dia karena jadwal dia udah terlalu padat dan ga bakalan sempat meskipun dipaksa-paksain. Sebuah tawaran yang sungguh menantang, yaitu ngajar persiapan SNMPTN untuk mata pelajaran ekonomi/akuntansi. 
Belum sempat gue mampus karena mesti belajar lagi pelajaran kelas XI sebagai guru private, malah mesti ditambah lagi belajar full pelajaran kelas X sampe kelas XII. Siswa yang gue hadapi pun ga tanggung-tanggung. Ada sekitar 30 siswa dengan sebagian besar dari program IPC. Gue mesti sabar, detail, dan benar-benar dasar mengajarnya karena pelajaran ekonomi/akuntansi adalah hal baru bagi mereka. Namun karena ini atas permintaan tolong seorang teman, akhirnya gue ambil tawaran tersebut.
Bukan gue namanya kalo sukses memberikan kesan pertama dengan baik. Karena pengalaman pertama mengajar full satu kelas, gue rada kaget dan nervous. Gue kaget karena pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan siswa di kelas benar-benar “lugu” dan jauh dari yang gue bayangkan. Mungkin karena mereka baru mengenal ekonomi/akuntansi (sebagian besar siswa pilih IPC) atau mungkin mereka sekedar “menguji” gue yang tidak beda jauh usianya dengan mereka. 
Bagi gue, job kali ini merupakan hal yang sangat serius. Ini menyangkut masa depan orang euy. Dan akan jadi apa mereka kelak seandainya mereka gagal meraih impian mereka karena gue (gue udah parno duluan). 

Gue sempat hopeless dengan kondisi tersebut dan bicara dengan teman gue yang kasih tawaran tersebut buat ngundurin diri. Namun apa boleh buat temen gue udah terlanjur bilang gue sanggup gantiin dia sama pihak penyelenggara. Gue pun buletin tekat dan berusaha semaksimal mungkin. Gue yakin gue bisa dan insya’allah siswa-siswa gue bakal sukses SNMPTN.  
Dan begitulah, akhirnya padatnya aktifitas bisa gue raih lagi dalam hidup gue. Hari-hari gue lalui dengan mengajar kelas SNMPTN di pagi hari, bimbel TOEFL© di siang hari, dan mengajar private di malam hari. Di sela-sela kegiatan gue juga sempatin membaca dan belajar lagi materi pelajaran SMA. Ga ada ruginya kok, gue jadi inget lagi pelajaran-pelajaran SMA yang sebagian besar gue udah lupa. 
Setelah dijalani gue menyadari banyak banget pengalaman serta pelajaran yang gue dapet dari mengajar. Gue bisa jadi lebih sabar, lebih mengargai orang lain, ikhlas menerima kritik, dan gue juga bisa dapet temen-temen baru yang sangat menyenangkan yakni siswa-siswi gue. Dan yang pasti gue bangga karena pada akhirnya gue bisa ngerasain salah satu kebahagiaan seorang guru yaitu ketika siswanya berhasil lulus SNMPTN dan sukses meraih impian mereka. Oya, satu lagi. Gue juga bangga sebab pengalaman bekerja pertama gue sama seperti profesi kedua orang tua gue, sekalipun cuma pengalaman part-time.  hahaha....

Pengangguran Amatir

Yah, enam bulan. Emang sih ga selama ibu mengandung (9 bulan 10 hari). Tapi bagi gue waktu enam bulan udah lebih dari cukup untuk bikin gue jadi lebih menghargai waktu. Waktu enam bulan yang gue maksud adalah “jedah” yang mesti gue lewati mulai dari gue menerima gelar A.Md hingga gue berhasil lulus tes program lanjutan ke jenjang S1. Lamaaaa…..banget rasanya karena selama itu pula gue harus menyandang status “pengangguran” Ckckck….
(-_____-").  

Sebagai pengangguran level pemula, pertama-tama gue dituntut untuk memiliki konsistensi akan rencana hidup. Sejak awal gue emang bertekat untuk ga dulu kerja dan fokus lanjutin kuliah. Namun melihat tawaran kesempatan kerja yang begitu banyak serta teman-teman yang banyak sudah diterima bekerja membuat tekat gue sedikit goyah. Gue pun mulai masukin berkas lamaran kesana-kemari, belajar psikotes dan TPA, membaca artikel tips dan trik wawancara, serta cari-cari info perusahaan yang qualified. Usaha gue ini ga bisa dibilang sia-sia begitu aja. Sebagian besar emang cuma sampe psikotes, namun ada juga yang sampe wawancara, dan ada beberapa juga yang keterima. Meskipun pada ujungnya gue ga jadi ambil tawaran-tawaran tersebut. Maklum, masih “ababil”. Hahaha…. 

Sampai suatu ketika gue sadar kalo gue udah cukup jauh keluar dari rencana awal. Melewati berbagai pertimbangan serta diskusi dengan orang-orang yang gue percaya dan layak memberikan masukan, akhirnya gue bulatin tekat untuk stay pada rencana awal. Kuliah!  

Keputusan yang gue bikin ga boleh cuma sampe sebatas omongan. Gue mesti implementasikan dengan ga lagi membuka website-website yang menyediakan info lowongan pekerjaan, ga boleh terpengaruh dengan teman-teman yang telah lebih dulu sukses mendapat pekerjaan, dan berani bilang “tidak” pada setiap tawaran yang ada. Mungkin tar kalo gue udah mau lulus kali ya…(Insya’allah gue bakal nyusul temen-temen gue yang udah kerja, tapi bukan sekarang).

Salah satu hal yang terberat bagi seorang yang memilih jalan ini adalah ketika seseorang bertanya,
“Sibuk apa kamu sekarang?”

Per tanyaan yang sangat mungkin keluar dari setiap galongan orang-orang yang ada disekitar kita. Mulai dari teman, keluarga, dosen, adik/kakak angkatan, ibu kos, sampe tukang burjo. Ada-ada aja yang nanya kayak gini. Sebuah antisipasi jawaban yang cukup diplomatis yang biasa gue keluarin adalah;

“Busy  doing nothing Pak/Bu/Bro…” 

Yah, sedikit mengurangi kekecewaan mendalam dari pada harus bilang “nganggur” secara frontal...hahaha…

Sebenarnya sedikit tidak fear kalo kata “menganggur” digunakan untuk mendiskripsikan jedah waktu selama enam bulan tersebut. Toh, kenyataannya gue ga ngangur-nganggur amat kok. Gue sempatin banyak nulis blog, sibuk belajar soal-soal tes program lanjutan S1, les TOEFL©, sampe part-time jadi guru les private dan jadi tentor bimbel persiapan SNMPTN malah. Dan satu lagi, gue juga cukup sukses membudidayakan ikan hias peliharaan gue. 
(^ ^)d