“Kok Jenny sih? Bukannya Tom
and Jerry?”.
(catatan : Gua emang ga kreatif)
Kali ini gua mau cerita tentang kisah dua ekor hewan.
Tepatnya kisah cinta dua ekor hewan dari spesies yang berbeda. Antara Tom dan
Jenny. Tom adalah seekor kucing dan Jenny seekor tikus. Sekali lagi gua
tekankan, ini merupakan cerita cinta-cintaan, sama sekali ga ada adegan
kekerasan seekor kucing memangsa tikus di dalamnya.
Kritis, logis, narsis, dan sifilis adalah beberapa sifat
yang mungkin merepresentasikan karakter Tom. (untuk sifat yang terakhir penulis
cuma becanda). Tom hidup bahagia dan normal sebagaimana seekor kucing remaja
pada umumnya. Tidur, bangun, mandi, sarapan, kuliah, ngerjain tugas, dan
sesekali nongkrong bareng temen. Namun, kini ada yang berbeda dengan Tom. Ia
jadi sulit fokus dan moodnya berfluktuatif naik-turun layaknya harga saham di
pasar sekunder. Suatu waktu Tom terlihat normal, penuh dengan semangat dan
energi positif yang biasa ia tularkan pada lingkungan sekitarnya. Namun, di
satu sisi kita juga akan melihat ia begitu murung dan tanpa arah. Yah, secara
kedokteran, Tom bisa dikategorikan terserang penyakit Galauitis stadium tiga.
Sebenarnya masalah dasar yang dihadapi Tom adalah masalah
cinta. Ia terlanjur menyukai seorang gadis. Jenny seekor tikus cantik
manis yang telah memberikan warna tersendiri dalam hidupnya. Tom dibuat cinta
mati pada Jenny tanpa tau sebab ataupun alasannya. Perlu anda tau, belum ada
sejarahnya Tom si kucing dibuat tergila-gila dan mau melakukan apa saja demi
seorang gadis. Dengan kualitas, potensi serta energi yang dimilikinya, tidak sulit
baginya untuk membuat kucing-kucing wanita lumpuh tak berdaya terpikat akan
pesona Tom.
Namun tidak bagi Jenny. Sepertinya Jenny sama sekali tidak
tertarik pada Tom. Untuk situasi yang lebih ekstrem, kata “jijay” mungkin akan
lebih tepat penggunaannya saking tak berartinya Tom di mata Jenny. Ya iyalah, jelas-jelas
Jenny seekor tikus dan Tom kucing. Bagaimanapun Tom memaksa, jelas-jelas kucing
bukanlah tipe cowok seekor tikus. (Untuk hal ini dapat anda temukan alasannya
pada buku Biologi bab Rantai Makanan).
Sekeras apapun usaha Tom untuk menarik perhatian Jenny, hal
itu tetap saja benilai nol besar. Mulai dari metode klasik dengan mencari tau
serta mempelajari hal-hal kesukaannya, akrab dengan teman-teman dekatnya,
sampai cara ekstrem dengan nyamperin langsung rumahnya. Semua udah Tom coba. Itu
semua Tom lakukan agar Jenny merasa nyaman dengan dirinya. Tentu semua itu
takkan berarti apa-apa tanpa pengaruh yang signifikan bagi hubungan mereka.
Semakin keras Tom berusaha, semakin keras pula Jenny menghindar.
Meski Jenny tak pernah melakukannya secara terus terang,
bukanlah hal sulit bagi Tom untuk menerjemahkan setiap sikap dan tingkah laku
Jenny. Jelas-jelas Jenny ngrasa gak nyaman atas sikap Tom kepadanya.
“Tom, lo tuh mesti Pede! Yang perlu lo lakuin adalah cukup bikin
dia nyaman sama lo.”
Berapa kali kalimat itu muncul dari temen-temen Tom selalu
ngedukungnya. Yah, mungkin itu satu-satunya yang membuat Tom terus bertahan.
Tom tau kalo temen-temennya tau yang terbaik baginya. Dan Tom sangat tidak
ingin mengecawakan mereka dengan begitu gampang untuk menyerah. Namun di sisi
lain Tom juga menyadari bahwa hal ini bener-bener hal yang sia-sia.
Yah, mungkin selamanya Tom adalah Tom, dan Jenny adalah
Jenny. Seekor kucing dan seekor tikus. Setidaknya Tom bersyukur, karena Jenny
telah memberikan pelajaran yang paling berharga. Bahwasanya PDKT hanyalah cara
untuk tau apakah Jenny adalah seseorang yang Tom butuhkan, atau mungkin hanyalah
seseorang yang Tom inginkan.
Tom emang telah jatuh ke dalam sumur patah hati, namun bukan
berarti Tom cukup berdiam diri dan menerima kenyataan.

